“Rezki tiap orang itu
sudah ditetapkan tempatnya dan pena takdir telah mengering”
Seminggu ini ada banyak cerita
yang terjadi, mulai dari kegalauan global yang menimpa angkatan kami hingga
deretan air mata yang menggenangi pelupuk. Sayang sekali saya sering lupa akan
sesuatu, padahal terkadang ada banyak inspirasi dan cerita yang patut diambil
hikmahnya, tapi apa daya, biarlah hikmah itu tersimpan jua dalam benak ini,
biar yang pertama mengambil pelajaran yaaa diri ini toh…
$#&*^&*_()+()&(^%$@!$^%&)&^(^%$@ (Mencoba mangingat kembali…….)
Cerita kira-kira gini:
Saya beserta beberapa orang
pengacara (pengangguran banyak acara) lainnya tertantang untuk mendaftarkan
diri sebagai perawat di dua rumah sakit berbeda yang bertetanggaan kalo boleh
dibilang keduanya hanya berbatas pagar besi ± 1,5 meter, dan berjarak ± 50 langkah dari
masing-masing pintu masuknya sebut saja RSH dan RSW. Dengan sabar dan tekad
kuat dibantu do’a, kami menjalani serangkaian tes yang diberikan hingga tes
terakhir yakni wawancara. Yang pertama
kali melaksanakan wawancara adalh RSH kemudian disusul RSW sekitar sepekan setelahnya, namun sayangnya RSH belum
juga mengeluarkan pengumumannya hingga sepekan kemudian berlanjut hingga 2
pekan. Sedangkan RSW, pagi ini tes wawancara, eh entar sore pengumumanya dah
keluar dan kami sang pengacara LULUS semua (Alhamdulillah)… jadwal selanjutnya
adalah kredensial pekan depan. Masih di pekan ini, ada sms masuk, katany
pengumuman kelulusan RSH sudah bisa ditengok dan kami sang pengacara lagi-lagi
LULUS semua (Alhamdulillah lagi) kecuali yang lebih dulu gugur saat psiko tes. Nah,
disinilah perang batin bermula..!
Rencana awal yang kami susun,
kami akan bekerja di dua tempat ini jika keduanya lulus, namun farta tidak
membiarkan kami menjadi manusia maruk pemburu dolar. Harus memilih… setelah
menimbang kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang, dengan ini saya memutuskan
untuk lebih condong ke RSW, alasannya… nah ini dia, 1. Ortu mintanya anak
tersayangnya kerja di RSW saja soalnya kalo ada keluarga yang dirawat disana,
bisa bantu-bantu sekedarnya (dan ini benar tejadi lho), ada juga yang bisa “liat-liat”
(ini maksudnya cuma yang nulis yang boleh tau), 2. Fresh graduate, pengalaman
kerja minim, skill masih tremor, 3. Pengen belajar lebih banyak lagi, 4. Mau bantu
orang lebih banyak karena pasien RSW lebih banyak dibanding RSH. Yah meskipun fee pokoknya dibawah UMR bahkan sangat dibawah, sedangkan RSH lebih menggiurkan baik fee maupun kesempatan yang ditawarkan. Yaaa focus dong ke orientasi
awalnya apakah kamu money oriented ato study dan pahala oriented???
Untungnya saya dan teman-teman sudah lumayan dewasa mengahdapi masalah, jadi
nda sampai ada yang mau bunuh diri. Tapi kondisi ini betul-betul menggerus
senyum salam dan sapa yang dulunya riang terdengar dari mereka, begitu pula
waktu produkti untuk mengerjakan sesuatu terkuras oleh pikiran dalam
mempertimbangkan pilihan, yah ini memang merupakan pilihan besar dan harus
dipilih dalam keadaan sadar dan bukan dalam keadaan delirium. But life must go
on…
“Memilihlah karena hidup itu
adalah pilihan”. Kalimat semacam inilah yang belakangan sangat sering keluar
dari lisan-lisan sang mantan pengacara yang dengan berat hati harus melepaskan
RSH yang notabene merupakan bagian dari institusi pendidikan yang
membesarkannya selama 5 tahun ini. Tapi yaaa.. hidup musti memilih kawan.
Ada lagi cerita mengharukan yang
terjadi. Saat orientasi di RSW, satu persatu dari kami mendapatkan telpon dari
RSH, ini kami kenali dari nomor kantor yang digunakan. Tapi sekali saya yang
dapat giliran, si penelpon ini ternyata cerdik juga, dia ganti menggunakan hp
karena tak satupun dari kami yang ngangkat telponnya sebelumnya. Dan saya yang
ditakdirkan untuk mengangkatnya. Kebetulan saya termasuk orang yang suka
mengangkat telfon dari orang tak dikenal jadinya saya harus jujur dong,
sebenarnya sudah ada feeling kalo ini dari RSH, tapi biarlah, perburuan mereka
harus diakhiri. Bagitu di angkat, dia menyebut dorang punya nama beberapa kali
karena sementara materi juga, jadinya berisik. Awalnya bertanya tentang
orientasi di RSH kenapa nda datang, tapi setelah tau duduk persoalannya, secara
singkat pada dan jelas tanpa bertele-tele si penelfon mengatakan “tolong
masukkan surat pengunduran dirinya ya, terakhir sampai jam 4 sore ini” yah
dengan terpaksa kujawab iya, mo bilang apa lagi coba??? Saat perkara ini
disampaikan kapada mantan pengacara lainnya, muncullah berbagai komentar dan
yang paling kuaminkan adalah, kenapa kita musti memasukan surat pengunduran
diri, wong teken kontrak saja bellon??? As well itulah prosedur, nda enak juga
sama institusi kalo jadi slonong girl begini. Dan saya yang didaulat untuk
membuatkan surat pengunduran diri itu dan yang lain yang ngeprit. Esoknya setelah
orientasi RSW slesai, secara berbondong-bondong kami mendatangi manajeman RSH
dan ternyata kosong saudara-saudara, ternyata mereka lagi di latai atasnya juga
orientasi pegawainya. Ini masuk susah keluar juga musti nunggu lagi, nunggu si
kakak ngasih materi ke calon pegawainya.
Saat beliau keluar menemui kami,
perasaan ini campur aduk, merasa bersalah sangat, penghianat iya, apa lagi…
tapi beliau sendiri berucap bahwa hidup itu pilihan, pilihan untuk menentukan
masa depan dan kami sudah memilih RSW, (seandainya nda rame, mungkin dah
menetes ni air mata)beliau bilang tidak akan menyesali apa-apa hanya
menyayangkan bahwa kami berasal dari institusi yang sama yang tentu bisa diajan
untuk membangun RSH bersama namun ternyata kami lebih memili yang sudah
tersedia dan tinggal digodok. Beliau sangat membesarkan jiwa kami dan meminta
kami untuk bekerja dengan sebaik-baiknya di tempat kami nanti. Terharu sangat
dengan beliau, melihat matanya yang seperti bekaca-kaca, perasaan bersalah itu
menusuk sampai saat ini masih ada. Kata penghianat itu memang pahit untuk
diucapkan tapi mengkin itu cukup mengena bagi kami… over all, satu masalah
terselesaikan dan semoga tidak ada benci diantara kita. Dan semoga mereka masih
bersedia menerima kita dengan tangan dan hati yang terbuka nantinya.
Ngomong-ngomong tentang
penyesalan, kata salah satu mantan pengacara, “tidak manusiawi itu kalo kita
nda menyesal” yah.. itu ada benarnya juga karena saya pribadi merasakannya. Kita
memang punya alasan masing-masing disetiap pilihan kita dan berharap diantara
kita tidak ada yang saling mempengaruhi keputusan karena bagaimanapun saya
yakin jika suatu saat terjadi masalah dengan keputusan yang diambil ini,
tentunya orang yang turut andil dalam pengambilan keputusan ini akan
mendapatkan jatahnya untuk dipersalahkan, benar tidak??? Intinya saat ini kita
sedang berproses untuk mendewasakan dir dan tahapan ini merupakan bagian yang
harus kita lewati, so enjoy it!!!
“Hidup itu adalah pilihan, pilihan untuk menentukan masa depan”
Saat ini kami masih mau belajar, belajar lebih banyak untuk memperkaya
ilmu dan kepekaan kami, tunggulah suatu saat kami akan kembali untuk bersama membangun
institusi yang kita cintai, yang telah banyak berjasa mengukir sejarah dalam
hidup kita, kami yakin saat ini disana kalian masih mampu untuk berjuang tanpa
kami. Tunggulah… suatu saat kami akan
kembali membersamai kalian”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar