Sabtu, 03 Maret 2012

GALAU STAGE I


“Rezki tiap orang itu sudah ditetapkan tempatnya dan pena takdir telah mengering”

Seminggu ini ada banyak cerita yang terjadi, mulai dari kegalauan global yang menimpa angkatan kami hingga deretan air mata yang menggenangi pelupuk. Sayang sekali saya sering lupa akan sesuatu, padahal terkadang ada banyak inspirasi dan cerita yang patut diambil hikmahnya, tapi apa daya, biarlah hikmah itu tersimpan jua dalam benak ini, biar yang pertama mengambil pelajaran yaaa diri ini toh…

$#&*^&*_()+()&(^%$@!$^%&)&^(^%$@   (Mencoba mangingat kembali…….)

Cerita kira-kira gini:
Saya beserta beberapa orang pengacara (pengangguran banyak acara) lainnya tertantang untuk mendaftarkan diri sebagai perawat di dua rumah sakit berbeda yang bertetanggaan kalo boleh dibilang keduanya hanya berbatas pagar besi  ± 1,5 meter, dan berjarak ± 50 langkah dari masing-masing pintu masuknya sebut saja RSH dan RSW. Dengan sabar dan tekad kuat dibantu do’a, kami menjalani serangkaian tes yang diberikan hingga tes terakhir yakni wawancara.  Yang pertama kali melaksanakan wawancara adalh RSH kemudian disusul RSW sekitar  sepekan setelahnya, namun sayangnya RSH belum juga mengeluarkan pengumumannya hingga sepekan kemudian berlanjut hingga 2 pekan. Sedangkan RSW, pagi ini tes wawancara, eh entar sore pengumumanya dah keluar dan kami sang pengacara LULUS semua (Alhamdulillah)… jadwal selanjutnya adalah kredensial pekan depan. Masih di pekan ini, ada sms masuk, katany pengumuman kelulusan RSH sudah bisa ditengok dan kami sang pengacara lagi-lagi LULUS semua (Alhamdulillah lagi) kecuali yang lebih dulu gugur saat psiko tes. Nah, disinilah perang batin bermula..!

Rencana awal yang kami susun, kami akan bekerja di dua tempat ini jika keduanya lulus, namun farta tidak membiarkan kami menjadi manusia maruk pemburu dolar. Harus memilih… setelah menimbang kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang, dengan ini saya memutuskan untuk lebih condong ke RSW, alasannya… nah ini dia, 1. Ortu mintanya anak tersayangnya kerja di RSW saja soalnya kalo ada keluarga yang dirawat disana, bisa bantu-bantu sekedarnya (dan ini benar tejadi lho), ada juga yang bisa “liat-liat” (ini maksudnya cuma yang nulis yang boleh tau), 2. Fresh graduate, pengalaman kerja minim, skill masih tremor, 3. Pengen belajar lebih banyak lagi, 4. Mau bantu orang lebih banyak karena pasien RSW lebih banyak dibanding RSH. Yah meskipun fee pokoknya dibawah UMR bahkan sangat dibawah, sedangkan RSH lebih menggiurkan baik fee maupun kesempatan yang ditawarkan. Yaaa focus dong ke orientasi awalnya apakah kamu money oriented ato study dan pahala oriented???

Untungnya saya dan teman-teman  sudah lumayan dewasa mengahdapi masalah, jadi nda sampai ada yang mau bunuh diri. Tapi kondisi ini betul-betul menggerus senyum salam dan sapa yang dulunya riang terdengar dari mereka, begitu pula waktu produkti untuk mengerjakan sesuatu terkuras oleh pikiran dalam mempertimbangkan pilihan, yah ini memang merupakan pilihan besar dan harus dipilih dalam keadaan sadar dan bukan dalam keadaan delirium. But life must go on…

“Memilihlah karena hidup itu adalah pilihan”. Kalimat semacam inilah yang belakangan sangat sering keluar dari lisan-lisan sang mantan pengacara yang dengan berat hati harus melepaskan RSH yang notabene merupakan bagian dari institusi pendidikan yang membesarkannya selama 5 tahun ini. Tapi yaaa.. hidup musti memilih kawan.

Ada lagi cerita mengharukan yang terjadi. Saat orientasi di RSW, satu persatu dari kami mendapatkan telpon dari RSH, ini kami kenali dari nomor kantor yang digunakan. Tapi sekali saya yang dapat giliran, si penelpon ini ternyata cerdik juga, dia ganti menggunakan hp karena tak satupun dari kami yang ngangkat telponnya sebelumnya. Dan saya yang ditakdirkan untuk mengangkatnya. Kebetulan saya termasuk orang yang suka mengangkat telfon dari orang tak dikenal jadinya saya harus jujur dong, sebenarnya sudah ada feeling kalo ini dari RSH, tapi biarlah, perburuan mereka harus diakhiri. Bagitu di angkat, dia menyebut dorang punya nama beberapa kali karena sementara materi juga, jadinya berisik. Awalnya bertanya tentang orientasi di RSH kenapa nda datang, tapi setelah tau duduk persoalannya, secara singkat pada dan jelas tanpa bertele-tele si penelfon mengatakan “tolong masukkan surat pengunduran dirinya ya, terakhir sampai jam 4 sore ini” yah dengan terpaksa kujawab iya, mo bilang apa lagi coba??? Saat perkara ini disampaikan kapada mantan pengacara lainnya, muncullah berbagai komentar dan yang paling kuaminkan adalah, kenapa kita musti memasukan surat pengunduran diri, wong teken kontrak saja bellon??? As well itulah prosedur, nda enak juga sama institusi kalo jadi slonong girl begini. Dan saya yang didaulat untuk membuatkan surat pengunduran diri itu dan yang lain yang ngeprit. Esoknya setelah orientasi RSW slesai, secara berbondong-bondong kami mendatangi manajeman RSH dan ternyata kosong saudara-saudara, ternyata mereka lagi di latai atasnya juga orientasi pegawainya. Ini masuk susah keluar juga musti nunggu lagi, nunggu si kakak ngasih materi ke calon pegawainya.

Saat beliau keluar menemui kami, perasaan ini campur aduk, merasa bersalah sangat, penghianat iya, apa lagi… tapi beliau sendiri berucap bahwa hidup itu pilihan, pilihan untuk menentukan masa depan dan kami sudah memilih RSW, (seandainya nda rame, mungkin dah menetes ni air mata)beliau bilang tidak akan menyesali apa-apa hanya menyayangkan bahwa kami berasal dari institusi yang sama yang tentu bisa diajan untuk membangun RSH bersama namun ternyata kami lebih memili yang sudah tersedia dan tinggal digodok. Beliau sangat membesarkan jiwa kami dan meminta kami untuk bekerja dengan sebaik-baiknya di tempat kami nanti. Terharu sangat dengan beliau, melihat matanya yang seperti bekaca-kaca, perasaan bersalah itu menusuk sampai saat ini masih ada. Kata penghianat itu memang pahit untuk diucapkan tapi mengkin itu cukup mengena bagi kami… over all, satu masalah terselesaikan dan semoga tidak ada benci diantara kita. Dan semoga mereka masih bersedia menerima kita dengan tangan dan hati yang terbuka nantinya.

Ngomong-ngomong tentang penyesalan, kata salah satu mantan pengacara, “tidak manusiawi itu kalo kita nda menyesal” yah.. itu ada benarnya juga karena saya pribadi merasakannya. Kita memang punya alasan masing-masing disetiap pilihan kita dan berharap diantara kita tidak ada yang saling mempengaruhi keputusan karena bagaimanapun saya yakin jika suatu saat terjadi masalah dengan keputusan yang diambil ini, tentunya orang yang turut andil dalam pengambilan keputusan ini akan mendapatkan jatahnya untuk dipersalahkan, benar tidak??? Intinya saat ini kita sedang berproses untuk mendewasakan dir dan tahapan ini merupakan bagian yang harus kita lewati, so enjoy it!!!


“Hidup itu adalah pilihan, pilihan untuk menentukan masa depan”
Saat ini kami masih mau belajar, belajar lebih banyak untuk memperkaya ilmu dan kepekaan kami, tunggulah suatu saat kami akan kembali untuk bersama membangun institusi yang kita cintai, yang telah banyak berjasa mengukir sejarah dalam hidup kita, kami yakin saat ini disana kalian masih mampu untuk berjuang tanpa kami. Tunggulah… suatu saat  kami akan kembali membersamai kalian”