Selasa, 04 November 2014

Mengobati rindu

assalamu 'alaykum....
wow tak terasa sudahh 2 tahun tidak menyapa blog ini, bukan tidak mau, tapi banyak kesibukan yang telah engalihkan duniaku... rindu untuk menulis lagi, menuangkan kegelisahan yang semakin banyak. hikmah yang menumpuk.... runduku padamu dan kalian...
okeh,
wasslam

Minggu, 01 April 2012

Inpirasi AHAD Pagi


Lama sudah saya tidak kelola lapak ini, mungkin kalo dagangan dah gulung tikar yak. Dan saya paling senang pake alasan pekerjaan, tapi toh ada jugaji yg bisa nulis sambil tetap kerja… yah namanya juga alasan. Pulang cape’ tepar blum lagi urus ini itu.
Inspirasi kali ini datang dari pekerjaanku. Saya senang menggunakan kata inspirasi coz sangat inspiratif halah… yah pekerjaanku sebagai orang dibidang kesehatan, perawat gan. Orang bilang pekerjaan ini sangat mulia, semulia pekerjaan soerang guru, tapi ada juga yang memandang sinis kasihan. Yah itu hak mereka sebagai manusia, memiliki sisi pandangnya sendiri.
Sebagai perawat, ada banyak hal yang kita lihat setiap harinya, perawat memiliki sisi pandangnya sendiri yang kadang sangat berbeda dengan orang awam lainnya, nda percaya? Coba Tanya sama perawat lain. Perawat itu, menjadi saksi pada bagian terpenting dari hidup seseorang, yah saksi bagi awal dan akhir kehidupan.
Menjadi saksi akan sakitnya perasaan seseorang yang ditinggalkan orang yang dikasihinya, kehilangan orang yang selama ini menjadi sandaran punggungnya.
Menjadi saksi kebahagiaan menjadi seorang ayah dan ibu baru. Yang melahirkan seorang makhluk Allah yang lucu sangad..
Manjadi saksi kesetiaan seorang suami yang menjaga istrinya yang telah berbulan dan bertahun mengalami penyakit yang sulit disembuhkan bahkan tidak akan sembuh selamanya kata dokter.
Menjadi saksi kesabaran dan ketabahan istri mendampingi suaminya yang kesakitan, dan ketegarannya sementara sang suami tak berdaya menjamin kelanjutan hidup keluarganya.
Menjadi saksi kakek dan nenek yang tetap langgeng meski termakan usia. Saya selalu tersenyum setiap kali melihat hal ini dan berharap dalam hati untuk memiliki kesempatan seperti mereka. Yang dari gurat wajah si kakek terdapat ketegasan dan kelembutan serta kesabaran yang dimiliki sang nenek. Ah indahnya, tapi saya yakin itu tidak di dapatkan dengan sangat mudah, mereka juga pastinya pernah diterjang badai hidup dan itu pasti… inilah bukti kekuatan cinta… halah mellow pagi-pagi…
Ada banyak lagi kawan celah-celah hidup yang akan kau lihat jika menjadi seorang perawat. Kau bisa menjadi orang yang sangat perasa atau orang yang hatinya mati sama sekali. Kau akan menjadi orang yang berhati lembut dan perasa mana kala kau menggunakan sepenuh hatimu untuk membantu mereka yang kesulitannya setiap hari memenuhi lapang pandangmu. Dan kau akan menjadi orang yang mati hatinya, jika yang kau lakukan hanya kewajibanmu dan yang kau kejar adalah penghargaan, harta dan jabatan. Karena kepekaanmu akan hilang seiring dengan setiap kejadian pilu yang menimpa retinamu. Yang hilang bersama aliran keringatmu. Itu jika kau tidak menjaga hatimu tetap lembut dan berusaha melembutkannya.
Seseorang pernah berkata padaku, jadilah keluarga dari pasienmu, maka kau akan membantunya dengan sepenuh hatimu.. dan itu BENAR….


Sabtu, 03 Maret 2012

GALAU STAGE I


“Rezki tiap orang itu sudah ditetapkan tempatnya dan pena takdir telah mengering”

Seminggu ini ada banyak cerita yang terjadi, mulai dari kegalauan global yang menimpa angkatan kami hingga deretan air mata yang menggenangi pelupuk. Sayang sekali saya sering lupa akan sesuatu, padahal terkadang ada banyak inspirasi dan cerita yang patut diambil hikmahnya, tapi apa daya, biarlah hikmah itu tersimpan jua dalam benak ini, biar yang pertama mengambil pelajaran yaaa diri ini toh…

$#&*^&*_()+()&(^%$@!$^%&)&^(^%$@   (Mencoba mangingat kembali…….)

Cerita kira-kira gini:
Saya beserta beberapa orang pengacara (pengangguran banyak acara) lainnya tertantang untuk mendaftarkan diri sebagai perawat di dua rumah sakit berbeda yang bertetanggaan kalo boleh dibilang keduanya hanya berbatas pagar besi  ± 1,5 meter, dan berjarak ± 50 langkah dari masing-masing pintu masuknya sebut saja RSH dan RSW. Dengan sabar dan tekad kuat dibantu do’a, kami menjalani serangkaian tes yang diberikan hingga tes terakhir yakni wawancara.  Yang pertama kali melaksanakan wawancara adalh RSH kemudian disusul RSW sekitar  sepekan setelahnya, namun sayangnya RSH belum juga mengeluarkan pengumumannya hingga sepekan kemudian berlanjut hingga 2 pekan. Sedangkan RSW, pagi ini tes wawancara, eh entar sore pengumumanya dah keluar dan kami sang pengacara LULUS semua (Alhamdulillah)… jadwal selanjutnya adalah kredensial pekan depan. Masih di pekan ini, ada sms masuk, katany pengumuman kelulusan RSH sudah bisa ditengok dan kami sang pengacara lagi-lagi LULUS semua (Alhamdulillah lagi) kecuali yang lebih dulu gugur saat psiko tes. Nah, disinilah perang batin bermula..!

Rencana awal yang kami susun, kami akan bekerja di dua tempat ini jika keduanya lulus, namun farta tidak membiarkan kami menjadi manusia maruk pemburu dolar. Harus memilih… setelah menimbang kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang, dengan ini saya memutuskan untuk lebih condong ke RSW, alasannya… nah ini dia, 1. Ortu mintanya anak tersayangnya kerja di RSW saja soalnya kalo ada keluarga yang dirawat disana, bisa bantu-bantu sekedarnya (dan ini benar tejadi lho), ada juga yang bisa “liat-liat” (ini maksudnya cuma yang nulis yang boleh tau), 2. Fresh graduate, pengalaman kerja minim, skill masih tremor, 3. Pengen belajar lebih banyak lagi, 4. Mau bantu orang lebih banyak karena pasien RSW lebih banyak dibanding RSH. Yah meskipun fee pokoknya dibawah UMR bahkan sangat dibawah, sedangkan RSH lebih menggiurkan baik fee maupun kesempatan yang ditawarkan. Yaaa focus dong ke orientasi awalnya apakah kamu money oriented ato study dan pahala oriented???

Untungnya saya dan teman-teman  sudah lumayan dewasa mengahdapi masalah, jadi nda sampai ada yang mau bunuh diri. Tapi kondisi ini betul-betul menggerus senyum salam dan sapa yang dulunya riang terdengar dari mereka, begitu pula waktu produkti untuk mengerjakan sesuatu terkuras oleh pikiran dalam mempertimbangkan pilihan, yah ini memang merupakan pilihan besar dan harus dipilih dalam keadaan sadar dan bukan dalam keadaan delirium. But life must go on…

“Memilihlah karena hidup itu adalah pilihan”. Kalimat semacam inilah yang belakangan sangat sering keluar dari lisan-lisan sang mantan pengacara yang dengan berat hati harus melepaskan RSH yang notabene merupakan bagian dari institusi pendidikan yang membesarkannya selama 5 tahun ini. Tapi yaaa.. hidup musti memilih kawan.

Ada lagi cerita mengharukan yang terjadi. Saat orientasi di RSW, satu persatu dari kami mendapatkan telpon dari RSH, ini kami kenali dari nomor kantor yang digunakan. Tapi sekali saya yang dapat giliran, si penelpon ini ternyata cerdik juga, dia ganti menggunakan hp karena tak satupun dari kami yang ngangkat telponnya sebelumnya. Dan saya yang ditakdirkan untuk mengangkatnya. Kebetulan saya termasuk orang yang suka mengangkat telfon dari orang tak dikenal jadinya saya harus jujur dong, sebenarnya sudah ada feeling kalo ini dari RSH, tapi biarlah, perburuan mereka harus diakhiri. Bagitu di angkat, dia menyebut dorang punya nama beberapa kali karena sementara materi juga, jadinya berisik. Awalnya bertanya tentang orientasi di RSH kenapa nda datang, tapi setelah tau duduk persoalannya, secara singkat pada dan jelas tanpa bertele-tele si penelfon mengatakan “tolong masukkan surat pengunduran dirinya ya, terakhir sampai jam 4 sore ini” yah dengan terpaksa kujawab iya, mo bilang apa lagi coba??? Saat perkara ini disampaikan kapada mantan pengacara lainnya, muncullah berbagai komentar dan yang paling kuaminkan adalah, kenapa kita musti memasukan surat pengunduran diri, wong teken kontrak saja bellon??? As well itulah prosedur, nda enak juga sama institusi kalo jadi slonong girl begini. Dan saya yang didaulat untuk membuatkan surat pengunduran diri itu dan yang lain yang ngeprit. Esoknya setelah orientasi RSW slesai, secara berbondong-bondong kami mendatangi manajeman RSH dan ternyata kosong saudara-saudara, ternyata mereka lagi di latai atasnya juga orientasi pegawainya. Ini masuk susah keluar juga musti nunggu lagi, nunggu si kakak ngasih materi ke calon pegawainya.

Saat beliau keluar menemui kami, perasaan ini campur aduk, merasa bersalah sangat, penghianat iya, apa lagi… tapi beliau sendiri berucap bahwa hidup itu pilihan, pilihan untuk menentukan masa depan dan kami sudah memilih RSW, (seandainya nda rame, mungkin dah menetes ni air mata)beliau bilang tidak akan menyesali apa-apa hanya menyayangkan bahwa kami berasal dari institusi yang sama yang tentu bisa diajan untuk membangun RSH bersama namun ternyata kami lebih memili yang sudah tersedia dan tinggal digodok. Beliau sangat membesarkan jiwa kami dan meminta kami untuk bekerja dengan sebaik-baiknya di tempat kami nanti. Terharu sangat dengan beliau, melihat matanya yang seperti bekaca-kaca, perasaan bersalah itu menusuk sampai saat ini masih ada. Kata penghianat itu memang pahit untuk diucapkan tapi mengkin itu cukup mengena bagi kami… over all, satu masalah terselesaikan dan semoga tidak ada benci diantara kita. Dan semoga mereka masih bersedia menerima kita dengan tangan dan hati yang terbuka nantinya.

Ngomong-ngomong tentang penyesalan, kata salah satu mantan pengacara, “tidak manusiawi itu kalo kita nda menyesal” yah.. itu ada benarnya juga karena saya pribadi merasakannya. Kita memang punya alasan masing-masing disetiap pilihan kita dan berharap diantara kita tidak ada yang saling mempengaruhi keputusan karena bagaimanapun saya yakin jika suatu saat terjadi masalah dengan keputusan yang diambil ini, tentunya orang yang turut andil dalam pengambilan keputusan ini akan mendapatkan jatahnya untuk dipersalahkan, benar tidak??? Intinya saat ini kita sedang berproses untuk mendewasakan dir dan tahapan ini merupakan bagian yang harus kita lewati, so enjoy it!!!


“Hidup itu adalah pilihan, pilihan untuk menentukan masa depan”
Saat ini kami masih mau belajar, belajar lebih banyak untuk memperkaya ilmu dan kepekaan kami, tunggulah suatu saat kami akan kembali untuk bersama membangun institusi yang kita cintai, yang telah banyak berjasa mengukir sejarah dalam hidup kita, kami yakin saat ini disana kalian masih mampu untuk berjuang tanpa kami. Tunggulah… suatu saat  kami akan kembali membersamai kalian”

Selasa, 21 Februari 2012

MENGHITUNG MASA


“Allah tidak akan merubah suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yang merubah dirinya”

Genap 5 tahun saya menjalankan kuliah, tepatnya 5 tahun lebih beberapa hari. Kuliah semester awal sekitar 26 Agustus 2006 dan berakhir pada 9 September 2011. Mungkin ada yang pernah sangsi saya akan menyelesaikan kuliah dengan kondisi seperti ini namun teman saya tidak, tidak pernah sangsi sama sekali bahkan tidak pernah terbesit sekalipun bahwa saya akan mundur. Diantara sepupu-sepupu, saya adalah anak pertama yang menyelesaikan kuliah sampai sarjana dan saya berazzam untuk melanjutkannya suatu saat nanti, Insya Allah.

Salah satu hal yang mungkin membuat orang sangsi adalah jarak yang cukup jauh dari rumah menurut orang-orang padahal hanya ± 10 km, itupun dengan transportasi umum yang selalu ada bahkan cenderung berlebih, hanya saja waktu yang cukup lama yang digunakan selama dalam perjalanan. Untuk sampai ketujuan membutuhkan waktu ± 1 jam, demikian pula ketika pulang. Jadi jika kuliah berlangsung dari senin – jumat,ditambah kadang ada kegiatan ekstra dihari sabtu dan ahad di kampus maka kita asumsikan rata-rata 12 jam dalam seminggu dihabiskan di atas angkot. Satu bulan 4 pekan artinya 48 jam, setahun 578 jam = 24 hari. Maka selama 5 tahun  saya menghabiskan 120 hari = 4 bulan di atas angkot… AMAZING… baru kali ini juga saya menghitungnya…

Menurut kalian selama 4 bulan itu apa yang kulakukan? Tahukan bahwa ada banyak mata kuliah yang dapat kululusi dengan bantuan Allah kemudian usahaku untuk membaca di atas angkot? Ada banyak. Terkadang waktu belajar di angkot menduduki porsi yang lebih besar daripada waktu belajar di rumah. Dan ada ada beberapa buku bacaan yang sudah ludes kulahap sambil menunggu angkot berangkat dan sampai ketujuan. 

Semangatlah kawan…

Teman kejarlah cita-citamu dan jangan pedulikan perkataan orang… Sukses itu tidak mudah, pengorbanan adalah tumbal yang diminta… so keep on moving...

 “Kejarlah duniamu seakan kau akan hidup abadi… dan kejarlah akhiratmu seakan kau akan mati besok”

“DIRIMU ADALAH APA YANG KAU PIKIRKAN

Minggu, 12 Februari 2012

Khilaf, Benci dan Cinta

Seorang kawan, dalam doa dan salamnya
di berlalunya seperempat abad usiaku
kembali mengenangkanku sebuah kaidah
"bencilah kesalahannya, tapi jangan keu benci orangnya".

betulkan aku sudah mampu begitu
pada saudaraku, pada keluargaku
pada para kekasih yang kucinta?
saat mereka terkhilaf dan disergap malu
betulkah kemaafanku telah tertakdir
mengiringi takdir kesalahan mereka?

tapi itulah yang sedang kuperjuangkan
dalam tiap ukhuwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang Allah jadikan saksinya
aku ingin meloncat ke hakikat yang lebih tinggi

karena tiap orang beriman tetaplah rembulan
memiliki sisi kelam,
yang tak pernah ingin ditampakkannya pasa siapapun
maka cukuplah bagiku
memandang sang bulan
pada sisi cantik yang menghadap ke bumi

tentu, tanpa kahilangan semangat
untuk selalu berbagi dan sesekali meresai
gelapnya sesal dan hangatnya nasehat
sebagaimana sang rembulan
yang kadang harus menggerhanai matahari


"Mengingatkan untuk memanusiakan manusia"

disadur dari buku
Dalam Dekapan Ukhuwah
oleh, Salim A. Fillah

Sabtu, 11 Februari 2012

Lembut Kerikil Langit

Diantara gemuncah gemerlap…
Menyudut duri menunggu mangsa

Haaaaiiii… betapa rasa begitu buncah
Kata hanya derai udara…
Sejagat dunia tak terbelik…

Adakah rasa berpadu selaras..
Pada sebongkah hati yang menanti
Meliuk membelai gelombang
Lalu bersandar pada bintang
Bertelekan pada bulan…

Apa yang menyeruak…
Berontak membelai…
Rasa adakah singgah…
Lalu pergi tanpa berucap
Meniti pijakan labil…
Menanti jurang beratap senja

Terima kasih untuk pandangan cinta
untuk segala masa.
Atas hentakan lembut..
Mengalun indah dalam genderang semesta…

Terima kasih untuk sang pemilik cinta yang memberi cinta
Kepada seorang yang terpaku padu
Meski tak tersebut nama..
Merangkul membendung masa dalam dekap semesta..
Berdiri beratap sendu meliputi senja

Kemuning silau berukir semerbak
Menjangkau ufuk diantara lengkungan indah…

Ohh… adakah rasa masih berpadu usia…
Tiada cinta bagi penakluk dunia…
Namun  cinta melenggang diri
Pada jiwa bertakhta cinta

Sedikit Kegelisahan


"Manusia dihidupkan  agar menjadi khalifah di bumi yang pada akhirnya adalah untuk diperhitugkan amalannya di akhirat"

Intinya manusia hidup untuk akhiratnya.
Jika kita melihat keluar sana, ada banyak manusia yang tidak menyadari akan tujuan hidupnya yang paling vital itu dan sibuk mengejar tujuan2 yang tidak lebih berharga dari selembar sayap nyamuk. Mereka bukannya tidak tahu namun mereka tidak menyadarinya dengan hati, hati mereka sibuk untuk memenuhi kebutuhan fisik dan hawa nafsunya. Bukan hanya mereka diri inipun sering kali berbuat demikian, namun kala tiba waktu tubuh ini memberikan peringatan akan ketidak kekalannya di dunia ini, maka pikiran ini pun akan berhenti dan kembali mempertanyakan tentang tjuan yang sebenarnya… namun seringkali hal itu tidak berlangsung lama karena kondisi lingkungan yang kurang mendukung dan bisikan yang terus berlangsung… apalah daya diri ini tanpa pertolongan Sang Pencipta Jiiwa….

Kemarin, buka-buka e-mail dari milis tentang beasiswa S2, dan salah satu syaratnya adalah sang calon penerima harus memiliki kesempatan dan potensi untuk menjadi pemimpin dan pemegang kekuasaan. Berfikir lebih jauh tentang hal ini, kemungkinan besar nilah sebabnya Negara kita banyak menerima tekanan dari Negara lain, kita banyak menerima beasiswa dari pihak asing, dan sebagai balas jasanya kita harus rela untuk kembali terjajah, meski hal itu tidak terlalu Nampak. Ketika sang boneka telah menyelesaikan studi dan kembali ke Negara tercinta kemudian diberikan atau mendapatkan jabata karena tingkat pendidikannya, mau tidak mau dia memenuhi permintaan donaturnya untuk melakukan apa yang mereka inginkan, ibarat menjadi musuh dalam selimut. Mereka secara perlahan menghancurkan negaranya dan menghilangkan independensi Negara untuk mengatu dirinya…. Mungkin terlalu mendongeng nampknya namun ini terjadi secara nyata, baik itu dalam lingkup pemerintahan yang sangat berbahaya jka hal itu terjadi maupun dapi sector swasta.

Namun diantara kesemuanya, tidak menutup kemungkinan bahwa ada individu yang lebih bisa menggunakan otaknya dan tidak menjadikan dirinya sebagai alat Negara lain. Yang memanfaatkan ilmu yang diberikan oleh pendonor justru untuk menjadi boomerang bagi penonor, untuk orang seperti ini, SALUT saya berikan untukmu. Namun hal itu saya yakini adalah langka, hanya orang dengan tingkat kesadaran tinggi dan tidak memiliki keinginan untuk memperkaya diri yang mampu melakukannya, tapi saya pesimis ada orang yang tidak mau kaya, kecuali orang yang menyadai bahwa HIDUPNYA ADALAH UNTUK MATINYA,,,
Hal lain yang terjadi, menanam bom watu dalam tubuhnya. Orang bodoh semacam ini, jika tampakan dari luarnya memiliki intelegensi yang tentunya akan membuat kita kagum, namun dia tidak sadar telah disusupi sehingga MENGANGGAP RACUN SEBAGAI MADU.

Masih ingat gempa di Jogja beberapa tuhun lalu, ada isu yang menyebutkan bahwa itu juga merupakan rekayasa dari konspirator luarbiasa yang menggunakan energy nuklir untuk menggerakkan lempeng bumi…. Emang kalo bumi hancur pengen tinggal dimana dia????

Atau pernahkan kita perhatikan mengapa di Indonesia begitu banyak pabrik namun hasilnya diekspor juga sementara dinegara besar sana jumlah pabriknya tidak terlalu banyak namun meeka mampu memenuhi kebutuhan industrnya??? Tahukan siapa pemilik saham pabrik itu??? Ya mereka-mereka juga. Memindahkan pebrik ke Negara berkembang untuk dijadikan sarang polusi demi kemakmuran mereka. Intinya Negara kita dijadikan TEMPAT SAMPAH oleh mereka.

Itulah sedikir realitas dunia yang tampak dari lubang jarum retina, hanya secuil konspirasi dari kerangkeng konspirasi dunia yang mengangkangi iman kita, pandai-pandainya kitalah dalam memilih langkah dan membuka tabir masa depan.