assalamu 'alaykum....
wow tak terasa sudahh 2 tahun tidak menyapa blog ini, bukan tidak mau, tapi banyak kesibukan yang telah engalihkan duniaku... rindu untuk menulis lagi, menuangkan kegelisahan yang semakin banyak. hikmah yang menumpuk.... runduku padamu dan kalian...
okeh,
wasslam
Sisi_Pikir
"Harmoni Diujung Kata"
Selasa, 04 November 2014
Minggu, 01 April 2012
Inpirasi AHAD Pagi
Lama sudah saya tidak kelola lapak ini, mungkin kalo
dagangan dah gulung tikar yak. Dan saya paling senang pake alasan pekerjaan,
tapi toh ada jugaji yg bisa nulis sambil tetap kerja… yah namanya juga alasan.
Pulang cape’ tepar blum lagi urus ini itu.
Inspirasi kali ini datang dari pekerjaanku. Saya senang
menggunakan kata inspirasi coz sangat inspiratif halah… yah pekerjaanku sebagai
orang dibidang kesehatan, perawat gan. Orang bilang pekerjaan ini sangat mulia,
semulia pekerjaan soerang guru, tapi ada juga yang memandang sinis kasihan. Yah
itu hak mereka sebagai manusia, memiliki sisi pandangnya sendiri.
Sebagai perawat, ada banyak hal yang kita lihat setiap
harinya, perawat memiliki sisi pandangnya sendiri yang kadang sangat berbeda
dengan orang awam lainnya, nda percaya? Coba Tanya sama perawat lain. Perawat itu,
menjadi saksi pada bagian terpenting dari hidup seseorang, yah saksi bagi awal
dan akhir kehidupan.
Menjadi saksi akan sakitnya perasaan seseorang yang
ditinggalkan orang yang dikasihinya, kehilangan orang yang selama ini menjadi
sandaran punggungnya.
Menjadi saksi kebahagiaan menjadi seorang ayah dan ibu baru.
Yang melahirkan seorang makhluk Allah yang lucu sangad..
Manjadi saksi kesetiaan seorang suami yang menjaga istrinya
yang telah berbulan dan bertahun mengalami penyakit yang sulit disembuhkan
bahkan tidak akan sembuh selamanya kata dokter.
Menjadi saksi kesabaran dan ketabahan istri mendampingi
suaminya yang kesakitan, dan ketegarannya sementara sang suami tak berdaya
menjamin kelanjutan hidup keluarganya.
Menjadi saksi kakek dan nenek yang tetap langgeng meski
termakan usia. Saya selalu tersenyum setiap kali melihat hal ini dan berharap
dalam hati untuk memiliki kesempatan seperti mereka. Yang dari gurat wajah si
kakek terdapat ketegasan dan kelembutan serta kesabaran yang dimiliki sang
nenek. Ah indahnya, tapi saya yakin itu tidak di dapatkan dengan sangat mudah,
mereka juga pastinya pernah diterjang badai hidup dan itu pasti… inilah bukti
kekuatan cinta… halah mellow pagi-pagi…
Ada banyak lagi kawan celah-celah hidup yang akan kau lihat
jika menjadi seorang perawat. Kau bisa menjadi orang yang sangat perasa atau
orang yang hatinya mati sama sekali. Kau akan menjadi orang yang berhati lembut
dan perasa mana kala kau menggunakan sepenuh hatimu untuk membantu mereka yang
kesulitannya setiap hari memenuhi lapang pandangmu. Dan kau akan menjadi orang
yang mati hatinya, jika yang kau lakukan hanya kewajibanmu dan yang kau kejar
adalah penghargaan, harta dan jabatan. Karena kepekaanmu akan hilang seiring
dengan setiap kejadian pilu yang menimpa retinamu. Yang hilang bersama aliran
keringatmu. Itu jika kau tidak menjaga hatimu tetap lembut dan berusaha
melembutkannya.
Seseorang pernah berkata padaku, jadilah keluarga dari pasienmu,
maka kau akan membantunya dengan sepenuh hatimu.. dan itu BENAR….
Sabtu, 03 Maret 2012
GALAU STAGE I
“Rezki tiap orang itu
sudah ditetapkan tempatnya dan pena takdir telah mengering”
Seminggu ini ada banyak cerita
yang terjadi, mulai dari kegalauan global yang menimpa angkatan kami hingga
deretan air mata yang menggenangi pelupuk. Sayang sekali saya sering lupa akan
sesuatu, padahal terkadang ada banyak inspirasi dan cerita yang patut diambil
hikmahnya, tapi apa daya, biarlah hikmah itu tersimpan jua dalam benak ini,
biar yang pertama mengambil pelajaran yaaa diri ini toh…
$#&*^&*_()+()&(^%$@!$^%&)&^(^%$@ (Mencoba mangingat kembali…….)
Cerita kira-kira gini:
Saya beserta beberapa orang
pengacara (pengangguran banyak acara) lainnya tertantang untuk mendaftarkan
diri sebagai perawat di dua rumah sakit berbeda yang bertetanggaan kalo boleh
dibilang keduanya hanya berbatas pagar besi ± 1,5 meter, dan berjarak ± 50 langkah dari
masing-masing pintu masuknya sebut saja RSH dan RSW. Dengan sabar dan tekad
kuat dibantu do’a, kami menjalani serangkaian tes yang diberikan hingga tes
terakhir yakni wawancara. Yang pertama
kali melaksanakan wawancara adalh RSH kemudian disusul RSW sekitar sepekan setelahnya, namun sayangnya RSH belum
juga mengeluarkan pengumumannya hingga sepekan kemudian berlanjut hingga 2
pekan. Sedangkan RSW, pagi ini tes wawancara, eh entar sore pengumumanya dah
keluar dan kami sang pengacara LULUS semua (Alhamdulillah)… jadwal selanjutnya
adalah kredensial pekan depan. Masih di pekan ini, ada sms masuk, katany
pengumuman kelulusan RSH sudah bisa ditengok dan kami sang pengacara lagi-lagi
LULUS semua (Alhamdulillah lagi) kecuali yang lebih dulu gugur saat psiko tes. Nah,
disinilah perang batin bermula..!
Rencana awal yang kami susun,
kami akan bekerja di dua tempat ini jika keduanya lulus, namun farta tidak
membiarkan kami menjadi manusia maruk pemburu dolar. Harus memilih… setelah
menimbang kiri-kanan, atas-bawah, depan-belakang, dengan ini saya memutuskan
untuk lebih condong ke RSW, alasannya… nah ini dia, 1. Ortu mintanya anak
tersayangnya kerja di RSW saja soalnya kalo ada keluarga yang dirawat disana,
bisa bantu-bantu sekedarnya (dan ini benar tejadi lho), ada juga yang bisa “liat-liat”
(ini maksudnya cuma yang nulis yang boleh tau), 2. Fresh graduate, pengalaman
kerja minim, skill masih tremor, 3. Pengen belajar lebih banyak lagi, 4. Mau bantu
orang lebih banyak karena pasien RSW lebih banyak dibanding RSH. Yah meskipun fee pokoknya dibawah UMR bahkan sangat dibawah, sedangkan RSH lebih menggiurkan baik fee maupun kesempatan yang ditawarkan. Yaaa focus dong ke orientasi
awalnya apakah kamu money oriented ato study dan pahala oriented???
Untungnya saya dan teman-teman sudah lumayan dewasa mengahdapi masalah, jadi
nda sampai ada yang mau bunuh diri. Tapi kondisi ini betul-betul menggerus
senyum salam dan sapa yang dulunya riang terdengar dari mereka, begitu pula
waktu produkti untuk mengerjakan sesuatu terkuras oleh pikiran dalam
mempertimbangkan pilihan, yah ini memang merupakan pilihan besar dan harus
dipilih dalam keadaan sadar dan bukan dalam keadaan delirium. But life must go
on…
“Memilihlah karena hidup itu
adalah pilihan”. Kalimat semacam inilah yang belakangan sangat sering keluar
dari lisan-lisan sang mantan pengacara yang dengan berat hati harus melepaskan
RSH yang notabene merupakan bagian dari institusi pendidikan yang
membesarkannya selama 5 tahun ini. Tapi yaaa.. hidup musti memilih kawan.
Ada lagi cerita mengharukan yang
terjadi. Saat orientasi di RSW, satu persatu dari kami mendapatkan telpon dari
RSH, ini kami kenali dari nomor kantor yang digunakan. Tapi sekali saya yang
dapat giliran, si penelpon ini ternyata cerdik juga, dia ganti menggunakan hp
karena tak satupun dari kami yang ngangkat telponnya sebelumnya. Dan saya yang
ditakdirkan untuk mengangkatnya. Kebetulan saya termasuk orang yang suka
mengangkat telfon dari orang tak dikenal jadinya saya harus jujur dong,
sebenarnya sudah ada feeling kalo ini dari RSH, tapi biarlah, perburuan mereka
harus diakhiri. Bagitu di angkat, dia menyebut dorang punya nama beberapa kali
karena sementara materi juga, jadinya berisik. Awalnya bertanya tentang
orientasi di RSH kenapa nda datang, tapi setelah tau duduk persoalannya, secara
singkat pada dan jelas tanpa bertele-tele si penelfon mengatakan “tolong
masukkan surat pengunduran dirinya ya, terakhir sampai jam 4 sore ini” yah
dengan terpaksa kujawab iya, mo bilang apa lagi coba??? Saat perkara ini
disampaikan kapada mantan pengacara lainnya, muncullah berbagai komentar dan
yang paling kuaminkan adalah, kenapa kita musti memasukan surat pengunduran
diri, wong teken kontrak saja bellon??? As well itulah prosedur, nda enak juga
sama institusi kalo jadi slonong girl begini. Dan saya yang didaulat untuk
membuatkan surat pengunduran diri itu dan yang lain yang ngeprit. Esoknya setelah
orientasi RSW slesai, secara berbondong-bondong kami mendatangi manajeman RSH
dan ternyata kosong saudara-saudara, ternyata mereka lagi di latai atasnya juga
orientasi pegawainya. Ini masuk susah keluar juga musti nunggu lagi, nunggu si
kakak ngasih materi ke calon pegawainya.
Saat beliau keluar menemui kami,
perasaan ini campur aduk, merasa bersalah sangat, penghianat iya, apa lagi…
tapi beliau sendiri berucap bahwa hidup itu pilihan, pilihan untuk menentukan
masa depan dan kami sudah memilih RSW, (seandainya nda rame, mungkin dah
menetes ni air mata)beliau bilang tidak akan menyesali apa-apa hanya
menyayangkan bahwa kami berasal dari institusi yang sama yang tentu bisa diajan
untuk membangun RSH bersama namun ternyata kami lebih memili yang sudah
tersedia dan tinggal digodok. Beliau sangat membesarkan jiwa kami dan meminta
kami untuk bekerja dengan sebaik-baiknya di tempat kami nanti. Terharu sangat
dengan beliau, melihat matanya yang seperti bekaca-kaca, perasaan bersalah itu
menusuk sampai saat ini masih ada. Kata penghianat itu memang pahit untuk
diucapkan tapi mengkin itu cukup mengena bagi kami… over all, satu masalah
terselesaikan dan semoga tidak ada benci diantara kita. Dan semoga mereka masih
bersedia menerima kita dengan tangan dan hati yang terbuka nantinya.
Ngomong-ngomong tentang
penyesalan, kata salah satu mantan pengacara, “tidak manusiawi itu kalo kita
nda menyesal” yah.. itu ada benarnya juga karena saya pribadi merasakannya. Kita
memang punya alasan masing-masing disetiap pilihan kita dan berharap diantara
kita tidak ada yang saling mempengaruhi keputusan karena bagaimanapun saya
yakin jika suatu saat terjadi masalah dengan keputusan yang diambil ini,
tentunya orang yang turut andil dalam pengambilan keputusan ini akan
mendapatkan jatahnya untuk dipersalahkan, benar tidak??? Intinya saat ini kita
sedang berproses untuk mendewasakan dir dan tahapan ini merupakan bagian yang
harus kita lewati, so enjoy it!!!
“Hidup itu adalah pilihan, pilihan untuk menentukan masa depan”
Saat ini kami masih mau belajar, belajar lebih banyak untuk memperkaya
ilmu dan kepekaan kami, tunggulah suatu saat kami akan kembali untuk bersama membangun
institusi yang kita cintai, yang telah banyak berjasa mengukir sejarah dalam
hidup kita, kami yakin saat ini disana kalian masih mampu untuk berjuang tanpa
kami. Tunggulah… suatu saat kami akan
kembali membersamai kalian”
Selasa, 21 Februari 2012
MENGHITUNG MASA
“Allah tidak akan
merubah suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yang merubah dirinya”
Genap 5 tahun saya menjalankan kuliah, tepatnya 5 tahun
lebih beberapa hari. Kuliah semester awal sekitar 26 Agustus 2006 dan berakhir
pada 9 September 2011. Mungkin ada yang pernah sangsi saya akan menyelesaikan
kuliah dengan kondisi seperti ini namun teman saya tidak, tidak pernah sangsi
sama sekali bahkan tidak pernah terbesit sekalipun bahwa saya akan mundur. Diantara
sepupu-sepupu, saya adalah anak pertama yang menyelesaikan kuliah sampai
sarjana dan saya berazzam untuk melanjutkannya suatu saat nanti, Insya Allah.
Salah satu hal yang mungkin membuat orang sangsi adalah
jarak yang cukup jauh dari rumah menurut orang-orang padahal hanya ±
10 km, itupun dengan transportasi umum yang selalu ada bahkan cenderung
berlebih, hanya saja waktu yang cukup lama yang digunakan selama dalam
perjalanan. Untuk sampai ketujuan membutuhkan waktu ± 1 jam, demikian pula ketika
pulang. Jadi jika kuliah berlangsung dari senin – jumat,ditambah kadang ada kegiatan
ekstra dihari sabtu dan ahad di kampus maka kita asumsikan rata-rata 12 jam
dalam seminggu dihabiskan di atas angkot. Satu bulan 4 pekan artinya 48 jam,
setahun 578 jam = 24 hari. Maka selama 5 tahun
saya menghabiskan 120 hari = 4 bulan di atas angkot… AMAZING… baru kali ini juga saya menghitungnya…
Menurut kalian selama 4 bulan itu apa yang kulakukan?
Tahukan bahwa ada banyak mata kuliah yang dapat kululusi dengan bantuan Allah
kemudian usahaku untuk membaca di atas angkot? Ada banyak. Terkadang waktu
belajar di angkot menduduki porsi yang lebih besar daripada waktu belajar di
rumah. Dan ada ada beberapa buku bacaan yang sudah ludes kulahap sambil
menunggu angkot berangkat dan sampai ketujuan.
Semangatlah kawan…
Teman kejarlah cita-citamu dan jangan pedulikan perkataan orang… Sukses itu tidak mudah, pengorbanan adalah tumbal yang diminta… so keep on moving...
“Kejarlah duniamu seakan kau akan hidup abadi… dan kejarlah akhiratmu seakan kau akan mati besok”
“DIRIMU ADALAH APA YANG KAU PIKIRKAN”
Label:
Jejak
Minggu, 12 Februari 2012
Khilaf, Benci dan Cinta
Seorang kawan, dalam doa dan salamnya
di berlalunya seperempat abad usiaku
kembali mengenangkanku sebuah kaidah
"bencilah kesalahannya, tapi jangan keu benci orangnya".
betulkan aku sudah mampu begitu
pada saudaraku, pada keluargaku
pada para kekasih yang kucinta?
saat mereka terkhilaf dan disergap malu
betulkah kemaafanku telah tertakdir
mengiringi takdir kesalahan mereka?
tapi itulah yang sedang kuperjuangkan
dalam tiap ukhuwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang Allah jadikan saksinya
aku ingin meloncat ke hakikat yang lebih tinggi
karena tiap orang beriman tetaplah rembulan
memiliki sisi kelam,
yang tak pernah ingin ditampakkannya pasa siapapun
maka cukuplah bagiku
memandang sang bulan
pada sisi cantik yang menghadap ke bumi
tentu, tanpa kahilangan semangat
untuk selalu berbagi dan sesekali meresai
gelapnya sesal dan hangatnya nasehat
sebagaimana sang rembulan
yang kadang harus menggerhanai matahari
disadur dari buku
di berlalunya seperempat abad usiaku
kembali mengenangkanku sebuah kaidah
"bencilah kesalahannya, tapi jangan keu benci orangnya".
betulkan aku sudah mampu begitu
pada saudaraku, pada keluargaku
pada para kekasih yang kucinta?
saat mereka terkhilaf dan disergap malu
betulkah kemaafanku telah tertakdir
mengiringi takdir kesalahan mereka?
tapi itulah yang sedang kuperjuangkan
dalam tiap ukhuwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang Allah jadikan saksinya
aku ingin meloncat ke hakikat yang lebih tinggi
karena tiap orang beriman tetaplah rembulan
memiliki sisi kelam,
yang tak pernah ingin ditampakkannya pasa siapapun
maka cukuplah bagiku
memandang sang bulan
pada sisi cantik yang menghadap ke bumi
tentu, tanpa kahilangan semangat
untuk selalu berbagi dan sesekali meresai
gelapnya sesal dan hangatnya nasehat
sebagaimana sang rembulan
yang kadang harus menggerhanai matahari
"Mengingatkan untuk memanusiakan manusia"
disadur dari buku
Dalam Dekapan Ukhuwah
oleh, Salim A. Fillah
Sabtu, 11 Februari 2012
Lembut Kerikil Langit
Diantara gemuncah gemerlap…
Menyudut duri menunggu mangsa
Haaaaiiii… betapa rasa begitu buncah
Kata hanya derai udara…
Sejagat dunia tak terbelik…
Adakah rasa berpadu selaras..
Pada sebongkah hati yang menanti
Meliuk membelai gelombang
Lalu bersandar pada bintang
Bertelekan pada bulan…
Apa yang menyeruak…
Berontak membelai…
Rasa adakah singgah…
Lalu pergi tanpa berucap
Meniti pijakan labil…
Menanti jurang beratap senja
Terima kasih untuk pandangan cinta
untuk segala masa.
Atas hentakan lembut..
Mengalun indah dalam genderang semesta…
Terima kasih untuk sang pemilik cinta yang memberi cinta
Kepada seorang yang terpaku padu
Meski tak tersebut nama..
Merangkul membendung masa dalam dekap semesta..
Berdiri beratap sendu meliputi senja
Kemuning silau berukir semerbak
Menjangkau ufuk diantara lengkungan indah…
Ohh… adakah rasa masih berpadu usia…
Tiada cinta bagi penakluk dunia…
Namun cinta melenggang diri
Pada jiwa bertakhta cinta
Menyudut duri menunggu mangsa
Haaaaiiii… betapa rasa begitu buncah
Kata hanya derai udara…
Sejagat dunia tak terbelik…
Adakah rasa berpadu selaras..
Pada sebongkah hati yang menanti
Meliuk membelai gelombang
Lalu bersandar pada bintang
Bertelekan pada bulan…
Apa yang menyeruak…
Berontak membelai…
Rasa adakah singgah…
Lalu pergi tanpa berucap
Meniti pijakan labil…
Menanti jurang beratap senja
Terima kasih untuk pandangan cinta
untuk segala masa.
Atas hentakan lembut..
Mengalun indah dalam genderang semesta…
Terima kasih untuk sang pemilik cinta yang memberi cinta
Kepada seorang yang terpaku padu
Meski tak tersebut nama..
Merangkul membendung masa dalam dekap semesta..
Berdiri beratap sendu meliputi senja
Kemuning silau berukir semerbak
Menjangkau ufuk diantara lengkungan indah…
Ohh… adakah rasa masih berpadu usia…
Tiada cinta bagi penakluk dunia…
Namun cinta melenggang diri
Pada jiwa bertakhta cinta
Sedikit Kegelisahan
"Manusia dihidupkan
agar menjadi khalifah di bumi yang pada akhirnya adalah untuk
diperhitugkan amalannya di akhirat"
Intinya manusia hidup untuk akhiratnya.
Jika kita melihat keluar sana, ada banyak manusia yang tidak
menyadari akan tujuan hidupnya yang paling vital itu dan sibuk mengejar tujuan2
yang tidak lebih berharga dari selembar sayap nyamuk. Mereka bukannya tidak
tahu namun mereka tidak menyadarinya dengan hati, hati mereka sibuk untuk
memenuhi kebutuhan fisik dan hawa nafsunya. Bukan hanya mereka diri inipun
sering kali berbuat demikian, namun kala tiba waktu tubuh ini memberikan
peringatan akan ketidak kekalannya di dunia ini, maka pikiran ini pun akan
berhenti dan kembali mempertanyakan tentang tjuan yang sebenarnya… namun
seringkali hal itu tidak berlangsung lama karena kondisi lingkungan yang kurang
mendukung dan bisikan yang terus berlangsung… apalah daya diri ini tanpa
pertolongan Sang Pencipta Jiiwa….
Kemarin, buka-buka e-mail dari milis tentang beasiswa S2,
dan salah satu syaratnya adalah sang calon penerima harus memiliki kesempatan
dan potensi untuk menjadi pemimpin dan pemegang kekuasaan. Berfikir lebih jauh
tentang hal ini, kemungkinan besar nilah sebabnya Negara kita banyak menerima
tekanan dari Negara lain, kita banyak menerima beasiswa dari pihak asing, dan
sebagai balas jasanya kita harus rela untuk kembali terjajah, meski hal itu
tidak terlalu Nampak. Ketika sang boneka telah menyelesaikan studi dan kembali
ke Negara tercinta kemudian diberikan atau mendapatkan jabata karena tingkat
pendidikannya, mau tidak mau dia memenuhi permintaan donaturnya untuk melakukan
apa yang mereka inginkan, ibarat menjadi musuh dalam selimut. Mereka secara
perlahan menghancurkan negaranya dan menghilangkan independensi Negara untuk
mengatu dirinya…. Mungkin terlalu mendongeng nampknya namun ini terjadi secara
nyata, baik itu dalam lingkup pemerintahan yang sangat berbahaya jka hal itu
terjadi maupun dapi sector swasta.
Namun diantara kesemuanya, tidak menutup kemungkinan bahwa
ada individu yang lebih bisa menggunakan otaknya dan tidak menjadikan dirinya
sebagai alat Negara lain. Yang memanfaatkan ilmu yang diberikan oleh pendonor
justru untuk menjadi boomerang bagi penonor, untuk orang seperti ini, SALUT
saya berikan untukmu. Namun hal itu saya yakini adalah langka, hanya orang
dengan tingkat kesadaran tinggi dan tidak memiliki keinginan untuk memperkaya
diri yang mampu melakukannya, tapi saya pesimis ada orang yang tidak mau kaya,
kecuali orang yang menyadai bahwa HIDUPNYA
ADALAH UNTUK MATINYA,,,
Hal lain yang terjadi, menanam bom watu dalam tubuhnya.
Orang bodoh semacam ini, jika tampakan dari luarnya memiliki intelegensi yang
tentunya akan membuat kita kagum, namun dia tidak sadar telah disusupi sehingga
MENGANGGAP RACUN SEBAGAI MADU.
Masih ingat gempa di Jogja beberapa tuhun lalu, ada isu yang
menyebutkan bahwa itu juga merupakan rekayasa dari konspirator luarbiasa yang
menggunakan energy nuklir untuk menggerakkan lempeng bumi…. Emang kalo bumi
hancur pengen tinggal dimana dia????
Atau pernahkan kita perhatikan mengapa di Indonesia begitu
banyak pabrik namun hasilnya diekspor juga sementara dinegara besar sana jumlah
pabriknya tidak terlalu banyak namun meeka mampu memenuhi kebutuhan
industrnya??? Tahukan siapa pemilik saham pabrik itu??? Ya mereka-mereka juga.
Memindahkan pebrik ke Negara berkembang untuk dijadikan sarang polusi demi
kemakmuran mereka. Intinya Negara kita dijadikan TEMPAT SAMPAH oleh mereka.
Itulah sedikir realitas dunia yang tampak dari lubang jarum
retina, hanya secuil konspirasi dari kerangkeng konspirasi dunia yang
mengangkangi iman kita, pandai-pandainya kitalah dalam memilih langkah dan
membuka tabir masa depan.
Langganan:
Postingan (Atom)
